TUGAS MAKALAH
ILMU
PENDIDIKAN ISLAM
Dosen : Ust.Sahroni, S.Pdi, M.si
Disusun Oleh :
Sri Prihatin Soleha
FAKULTAS
TARBIYAH
SEMESTER III
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM AL-QUDWAH
DEPOK 2014
KATA PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan ke hadirat ALLAH SWT,yang telah melimpahkan kekuatan
lahir dan batin kepada saya,sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah
ini.Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad
SAW,karena melalui risalah – risalahnya yang diwahyukan ALLAH SWT kepadanya
umat manusia dapat keluar dari belenggu kegelapan ke dalam alam yang penuh
dengan sinar cahaya yang terang benderang.
Saya
berharap makalah yang berisi tentang“Ilmu pendidikan” beserta hal –hal yang
berkaitan dengan ilmu Pendidikan ini dapat bermanfaat dan memberikan kontribusi
positif bagi para pembaca.
Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak yang terkait
terutama kepada Bapak Dosen pembimbing yang sekaligus sebagai dosen pemberi
materi yang
telah berperan penting dalam penyusunan tugas makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna,
sehingga masih perlu ada penyempurnaan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan keritik dan saran yang membangun
jika ada materi makalah ini belum tepat.
Depok,30 oktober 2014
Penyusun
Sri Prihatin Soleha
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Wacana tentang pendidikan tidak akan penah sepi dengan
kritikan tajam yang dilontarkan oleh para intelektual,serta debat
akademil.Bahkan masalah pendidikan tidak pernah selesai sepanjang sejarah
kehidupan manusia (Mastuhu 1999:29),hal ini disebabkan karena salah satu
keunikan manusia jika dibandingkan dengan kehidupan makhluk lain,tidak pernah
sepi dari nilai-nilai luhur yang dicita-citakan.
Model-model pendidikan yang diharap sebagai sebuah
sarana memanusiakan manusia dan membebaskannya dari distorsi kemanusiaan yang
hakiki tidak lagi terjadi,justru sebaliknya pendidkan tidak lagi membebaskan
manusia atau peserta didik,serta seluruh komponen pendidikan .Kenyataan
tersebut,menyebabkan lahirnya pemikiran tentang wacana pembubaran lembaga
sekolah,Ivan Illic misalnya mengatakan bahwa lembaga-lembaga sekolah yang sudah
ada ini harus digusur alias dibubarkan semua.Menurutnya,sekolah bukanlah
lembaga pendidikan akan tetapi lembaga penindasan rakyat kecil,yang
melestarikan feodalisme,lembaga yang melanggengkan kolonialisme,yang menjujung
tinggi status quo,bahkan lembaga yang
mengabdikan system persaingan model hukum rimba.Atau memakai istilah Ainurrafiq
“Emoh Sekolah” karena sekolah
dianggap sebagai biang keladi munculnya dikotomisasi antara pendidikan dan
pengajaran atau penyekolahan (Ainurrafiq 2003:43).
Wacana di atas,merupakan bentuk dari kritik kepada
dunia pendidikan yang tidak lagi mempunyai filsafat pendidikan yang membebaskan
peserta didik dan seluruh komponen pendidikan.Hal ini akan menjadi sangat
relevan manakala kita menyadari kondisi dan praktek pendidikan di Indonesia,oleh
karena itu,pemikiran tersebut merupakan wujud dari kegelisahan seseorang yang
masih punya hati nurani kemanusiaan.Dengan kata lain merupakan wujud
kegelisahan social intelektual manusia Indonesia yang tidak menginginkan
manusia Indonesia tega memakan teman,saudara,rekan,bahkan orangtua sendiri
hanya untuk mendapatkan kekayaan dan kesenangan yang bersifat materi.
Dengan demikian,pendidikan yang berorientasi kepada human empowering,dialogue oriented dan
simpatik minoritas sudah saatnya mendapat tempat bagi semua elemen
akademisi.Atau filsafat pendidikan yang membebaskan,kalau tidak,jangan salahkan
Paulo Freire yang mengatakan lembaga sekolah adalah candu.Karena itupun beliau
menggagas pendidikan yang membebaskan.
Demikian halnya dengan pendidikan dalam Islam tetap
actual dan menarik untuk diperbincangkan.Kenyataannya dunia pendidikan adalah
Islam sebagai agama yang menempatkan pendidikan dalam posisi yang sangat
vital.Pernyataan ini didukung dengan lima ayat pertama yang diwahyukan Allah
SWT kepada Muhammad SAW ,dalam surat al-Alaq.Hal
ini pun diakui Malik Fajar bahwa hubungan Islam dan pendidikan bagaikan dua
keping mata sisi uang artinya,Islam dan pendidikan mempunyai hubungan filosofis
yang sangat mendasar ,baik secara ontologism,epistimologi,maupun aksiologi
(Fajar 1999: 27 ).
Islam menganjurkan dan mendorong mencari ilmu bahkan
dikatakan bahwa semua hasil ilmu pengetahuan modern telah ada dalam
al-Qur’an.Untuk membekali ilmu bagi umat yang efektif melalui pendidikan,baik
formal maupun non formal (Isna 2001:64).Franz Rosenthal mengatakan,kata ilm dan derivasinya digunakan paling
dominan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan perhatian Islam yang sangat luar biasa terhadap pendidikan
(Rahim 2001:4).
B.
RUMUSAN
MASALAH
a. Apakah
Pengertian Ilmu Pendidikan Islam ?
b. Apakah
Pengertian Hakikat Manusia ?
c. Apakah
Pengertian Hakikat Pendidikan ?
d. Bagaimanakah
Karakter Peserta Didik ?
e. Apakah
visi, misi, dan asas Pendidikan ?
f. Apa
saja Unsur – Unsur Pendidikan ?
g. Apakah
Pengertian Sistem Pendidikan Nasional ?
h. Apa
itu Gezag (Kewibawaan) Pendidikan ?
i.
Apa sajakah Permasalahan – Permasalahan Pendidikan ?
j.
Apa itu Sekolah Islam Terpadu?
C.
TUJUAN
PENULISAN
a. Menjelaskan
Pengertian Ilmu Pendidikan Islam.
b. Menjelaskan
Pengertian Hakikat Manusia.
c. Menjelaskan
Pengertian Hakikat Pendidikan.
d. Menjelaskan
Karakteristik Peserta Didik.
e. Menjelaskan
visi, misi dan Asas Pendidikan.
f. Menjelaskan
Unsur – Unsur Pendidikan.
g. Menjelaskan
Sistem Pendidikan Nasional.
h. Menjelaskan
Gezag ( Kewibawaan ) Pendidikan.
i.
Menjelaskan Masalah – Masalah
Pendidikan.
j.
Menjelaskan Pengertian Sekolah Islam
Terpadu.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Ilmu
Pendidikan Islam
Pendidikan mempunyai pengertian yang
luas,yang mencakup semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk
mengalihkan nilai-nilai serta melimpahkan
pengetahuan,pengalaman,kecakapan,serta keterampilan kepada generasi
selanjutnya,sebagai usaha untuk menyiapkan mereka,agar dapat memenuhi fungsi
hidup mereka,baik jasmani begitu pula ruhani (Langgulumg,1988:3).
Beragam pemikiran tentang pengertian
Ilmu Pendidikan Islam yang dikemukakan para tokoh-tokoh pendidikan
Islam.Sebagaimana yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh berikut ini:
1. Achmadi
(1992:5), Ilmu Pendidikan Islam adalah Ilmu yang mengkaji pandangan Islam
tentang pendidikan dengan menafsirkan nilai – nilai Ilahi dan mengkomunikasikan
secara timbal balik dengan fenomena dalam situasi pendidikan.
2. H.M.Arifin
(1991:14), Ilmu Pendidikan Islam adalah studi tentang system dan proses
kependidikan yang berdasarkan Islam untuk mencapai produk atau tujuannya,baik
studi secara teoritis maupun praktis.
3. Widodo
Supriyono,memberikan pengertian Ilmu Pendidikan Islam adalah Ilmu yang
membicarakan masalah-masalah umum pendidikan Islam,secara menyeluruh dan
abstrak.Dimana pendidikan Islam bersifat teoritis dan praktis (Ismail SM
2001:35).
4. Ilmu
Pendidikan Islam adalah Ilmu yang membahas proses penyampaian materi-materi
ajaran Islam kepada anak didik dala proses pertumbuhannya (Uhbiyati 1998:12).
Dalam Ilmu Pendidikan Islam teoritis ,dibahas
hal-hal yang bersifat normatif,yakni menunjuk kepada standar nilai Islam.Oleh
karena itu sistematika pokok kajiannya meliputi landasan dasar pendidikan
Islam, fungsi pendidikan Islam dan tujuan pendidikan Islam.Adapun untuk ilmu
pendidikan Islam yang bersifat praktis,maka sistematika pokok kajiannya
meliputi pendidikan Islam di lingkungan keluarga,lingkungan sekolah,serta di
lingkungan masyarakat.
Berdasarkan penegasan-penegasan tersebut di
atas,maka dapat dikatakan bahwa ilmu pendidikan Islam merupakan Ilmu
pengetahuan praktis,karena yang diuraikan dalam ilmu ini dilakasanakan dalam
kegiatan pendidikan,dan orang yang mempelajari ilmu ini dengan tujuan untuk
dapat mengetahui dan mengarahkan pendidikan.
Ilmu pendidikan Islam juga merupakan ilmu
pengetahuan rohani,karena situasi pendidikan berdasarkan atas tujuan tertentu
tidak membiarkan anak tumbuh secara liar sesuai dengan keinginannya,melainkan
memandangnya sebagai makhluk susila,berharkat,bermartabat dan ingin membawanya
kea rah manusia susila,yang memiliki harkat dan budaya.
Batasan Ilmu Pendidikan Isam mengunakan
kaidah-kaidah Ilmu Pendidikan,dan menggunakan pendekatan filosofis dan empiris
agar ia memiliki konsep yang idealistic,realistic dan praktis.Pendekatan
filosofis mengangkat nilai-nilai Ilahi transcendental yang terkandung dalam
risalah Islamiyah yang berkaitan dengan masalah-masalah pendidikan.Sedangkan
pendekatan empiris lebih diarahkan pada upaya untuk mencari jawaban terhadap
berbagai masalah pendidikan yang timbul dengan selalu menggunakan parameter
nilai-nilai Ilahi.
Berdasarkan pendekatan tersebut,ilmu pendidikan
Islam dapat diberi batasan secara garis besar sebagai berikut:Ilmu pendidikan
Islam ialah ilmu yang mengkaji pandangan Islam tentang pendidikan dengan
menafsirkan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam dan
mengkomunikasikan secara timbal balik dengan fenomena social dalam situasi
pendidikan kontemporer.[1]
B.
Hakikat
Manusia
Terdapat berbagai cara pandang di kalangan para ahli
dalam melihat manusia,sebagai berikut.
1. Manusia
menurut Ilmu Antropologi
Bagi kalangan antropologi misalnya,melihat manusia
berdasarkan teori evolusi.Menurutnya bahwa semua makhluk termasuk manusia pada
mulanya muncul dari satu sel yang amat sederhana,kemudian berproses dan
berevolusi secara bertahap menuju taraf yang lebih sempurna,dan dalm proses
evolusi tersebut terdapat hokum berjuang dan bertahan untuk hidup (The preservation of Favoured Rase in the
Strugle for life,atau The Origin of
Species by Means of Natural Selection),yakni makhluk yang lemah dengan
sendirinya akan hilang atau lenyap digantikan oleh makhluk yang lebih kuat .Dalam
teori evolusi tersebut,asal usul manusia berasal dari benda-benda tidak
bernyawa yang memiliki sel yang amat
sederhana (anorganisme),kemudian berubah menjadi tumbuh-tumbuhan
(vegetatif),selanjutnya menjadi binatang (sensitiva),kemudian menjadi makhluk
yang mendekati manusia (homo sapiens,makhluk purbakala-primitif),dan terakhir
menjadi manusia seperti sekarang.Proses perubahan atau evolusi tersebut terjadi
dalam waktu yang berabad-abad lamanya.Teori evolusi ni diperkenalkan oleh
Charles Darwin(1809-1882) yang dipengaruhioleh Lamarck (1744-1829).Teori
evolusi ini berpegang kepada suatu pendapat bahwa seluruh bentuk yang dilihat
manusia adalah hasil dari suatu proses evolusi yang dibentuk oleh alam luar dan
juga berkat kekuatan mempertahankan diri dari pengaruh yang datang dari alam
atau yang disebut dengan the strugle for
life.
Lamarck membayangkan perkembangan itu sebagai suatu
perkembangan yang ditentukan oleh cara hidup dan keadaaan dari luar yang lambat
laun membuat bertumbuh alat-alat tubuh erta sifat- sifat yang khas.
2. Manusia
menurut Ilmu Sosiologi
Selanjutnya bagi kalangan sosiologi,manusia adalah
makhluk hidup,dan kehidupannya tidaklah dapat dipisahkan dari hidup berkelompok
.Sadar atau tidak sadar,manusia dari semenjak lahir sudah membutuhkan kelompok
atau orang lain.Kehidupan sosial itu harus dipandang sebagai suatu tabiat kejiwaan
yang lebih tinggi dan lebih sesuai yang telah tumbuh dari satuan
biologi.Pandangan kaum sosiolog tentang manusia ini sejalan dengan pendapat
Aristoteles (384- 322 SM ) yang mengatakan dalam teorinya,bahwa manusia adalah
“ Zoon Politikon”,yaitu makhluk sosial yang hanya menyukai hidup
bergolongan,atau sedikitnya mencari teman untuk hidup bersama,lebih suka daripada
hidup tersendiri.
Setelah manusia (individu-individu) berada dalam
suatu masyarakat yang tinggal pada suatu tempat,tidaklah diperlukan suatu hukum
untuk mengatur/mengawasi
kelakuan-kelakuan dalam anggota masyarakat,selama kelakuan para anggotanya
masih dapat dikontrol secara informal,khususnya oleh hukum adat istiadat.
3. Manusia
menurut Para Filsuf
Menurut para Filsuf pada umumnya,manusia adalah
makhluk yang dapat berfikir,dan dengan berfikirnya ini,manusia menunjukkan
eksistensi dan perannya.Pikiran manusia tak ubahnya seperti bibit atau benih
tanaman,jika benih ini tumbuh di tempat yang subur,maka akan menghasilkan buah
yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi lingkungan.Kemajuan dalam bidang
kebudayaan dan peradaban manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
serta penerapannya dalam pembangun infra struktur seperti jembatan bawah
laut,gedung pencakar langit,pesawat super cepat,robot yang cerdas,dan lain
sebagainya adalah terjadi hasil pemikiran manusia.
Menurut para filsuf,bahwa manusia lahir dengan
potensi kodratnya berupa cipta,rasa dan karsa.Cipta adalah kemampuan
spiritual,yang secara khusus mempersoalkan nilai kebenaran.Rasa adalah
kemampuan spiritual ,yang secara khusus mempersoalkan nilai keindahan.Sedangkan
karsa adalah kemampuan spiritual ,yang secara khusus mempersoalkan nilai
kebaikan.Dengan ketiga potensinya itu,manusia selalu terdorong untuk ingin tahu
dan bahkan mendapatkan nilai-nilai kebenaran,keindahan,dan kebaikan yang
terkandung di dalam segala sesuatu yang ada (realitas).Ketiga jenis nilai
tersebut dibingkai oleh satu ikatan sistem yang selanjutnya dijadikan landasan
dasar untuk merumuskan filsafat hidup,menentukan pedoman hidup,dan mengatur
sikap dan perilaku hidup agar senantiasa terarah ke pencapaian tujuan
hidup.Filsafat hidup ini mengandung pengetahuan yang bernilai
universal,meliputi masalah-masalah asal mula,tujuan dan eksistensi
kehidupan.Ketiganya berhubungan menurut asas sebab akibat.Asal mula kehidupan
sebagai sebab bagi tujuan kehidupan.Sedangkan tujuan kehidupan menentukan
jenis,bentuk dan sifat perilaku hidup.Dengan kata lain,bahwa menurut filsafat
manusia adalah makhluk yang berpengetahuan.
4. Manusia
menurut Islam
Sebagai agama yang bersifat sempurna,seimbang dan
berdasarkan dalil naqli (wahyu) dan hadits Nabi Muhammad Saw,serta ijma ulam
atau qiyas (pemikiran) atau menghargai akal pikiran dan usaha manusia,Islam
dapat mempertimbangkan seluruh pendapat tentang manusia tersebut di atas dengan
beberapa catatan sebagai berikut:
Pertama,Islam
mengakui bahwa proses penciptaan manusia terjadi melalui proses atau
evolusi,sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Hai manusia
jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur),maka (ketahuilah)
bahwasannya Kami telah menjadikan kamu dari tanah ,kemudian dari setets mani
,kemudian dari segumpal daging,kemudian dari segumpal daging yang sempurna
kejadiannya dan yang tidak sempurna ,agar Kami jelaskan kepada kamu ,dan Kami
tetapkan (sesudah itu) dalam rahim apa yang kamu kehendaki sampai waktu yang
sudah ditentukan.Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi,kemudian (dengan
berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan,dan di antara kamu ada yang
diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai
pikun,sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah
diketahuinya.(QS Al-Hajj,22:5)
Namun evolusi penciptaan manusia menurut Islam
sangat jauh berbeda dengan teori evolusi manusia menurut Charles Darwin
sebagaimana tersebut di atas,dengan beberapa
catatan sebagai berikut:
1. Menurut
Islam,bahwa evolusi kejadian manusia tersebut bukan berasal dari jenis makhluk
lainnya seperti benda zat renik ,tumbuh-tumbuhan dan binatang.Penciptaan
manusia berasal zat yang satu yakni turab
(tanah),nuthfah (air mani),alaqah (air mani laki-laki dan perempuan
yang sudah bercampur dan menempel dalam dinding rahim),mudghah (segumpal daging),idzam
(tulang), dan lahm (daging) yang
kemudian diberi ruh oleh Allah.Manusia bukan berasal dari kera,karena hingga
saat ini tidak pernah ada kera yang berubah menjadi manusia.Kalaupun di
Al-Qur’an ada sekelompok Bani Israil yang disebut dengan kera,namun kera yang
dimaksud Al-Qur’an itu adalah kera dalam arti karakternya,yaitu serakah,tidak
mengenal halal dan haram,serta perbuatan tercela lainnya.
2. Menurut
Islam bahwa proses perubahan dari satu tahap ke tahap lain tidak terjadi dengan
sendirinya,melainkan ada peran Tuhan sebagai agen yang melakukan dan
menggerakkan perubahan tersebut.Hal ini berbeda dengan teori Darwin yang mengatakan
bahwa perubahan tersebut terjadi dengan
sendirinya.Dalam hubungan ini,dalam teori Darwin terdapat mata rantai
yang terputus (missing-link),yaitu menghilangkan peran Tuhan sebagai agen
perubahan.
3.
Dalam Islam manusia bukan hanya
terdiri dari unsur fisik (jasmani),melainkan juga terdapat unsur ruhani,yaitu
ruh yang dihembuskan Tuhan,dan inilah yang selanjutnya membedakan manusia dari
makhluk Tuhan lainnya,dan ini pula yang menyebabkan manusia menjadi makhluk
yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya,dan ini pula yang menyebabkan
manusia akan dimintakan pertanggungjawaban oleh Tuhan di akhirat nanti.
Kedua,Islam
mengakui atau menerima pendapat para sosiolog yang mengatakan bahwa manusia
sebagai makhluk sosial, atau makhluk yang keberadaan dan keberlangsungan
hidupnya membutuhkan keberadaan orang lain.
Namun demikian,Islam sebagai ajaran yang bersifat
seimbang,disamping mengakui manusia sebagai makhluk sosial,juga sebagai makhluk
individual.Sebagai makhluk sosial ia selain harus memperhatikan kepentingan
dirinya ,juga harus memperhatikan kepentingan masyarakat.Dan dalam memenuhi
kepentingan masyarakat ia tidak boleh mengorbankan kepentingan dirinya.Intiya
adalah bahwa Islam mengajarkan tentang manusia yang seimbang,yaitu manusia yang
memiliki kesalehan individual dan kesalehan sosial.
Ketiga,Islam
dapat menerima pendapat para psikolog yang menyatakan bahwa manusia dipengaruhi
oleh bakat dan kemampuan yang dibawanya sejak lahir,dan juga pengaruh
lingkungan.Namun,Islam tidak menerima pendapat yang bersifat
antagonistic,pragmentatif,dan dikotomis.Pada teori daya mental sebagaimana
terlihat pada aliran navitisme yang dikembangkan oleh Arthur
Schopenhauer,misalnya hanya mengakui pengaruh dari dalam atau dari
bawaan.Sedangkan pengaruh dari luar dianggap tidak ada fungsinya.Sebaliknya
pada teori behaviorisme yang dikembangkan oleh John Locke misalnya hanya
mengakui pengaruh dari luar ,dan mengabaikan atau tidak mengakui factor
pembawaan.Selanjutnya, pada teori
konvergensi yang dikembangkan oleh William Stern mengakui pendapat dari
dalam dan dari luar.Islam tampaknya sejalan dengan teori konvergensi dan telah
banyak yang berpendapatsejalan dengan konvergensi tersebut dengan merujuk pada
hadits Nabi yang mengatakan bahwa”setiap
yang dilahirkan telah membawa fitrah beragama,maka kedua orang tuanyalah yang
menyebabkan anak menjadi Yahudi ,Nasrani atau Majusi.”Namun
sebenarnya,ketiga teori tersebut kurang sejalan dengan ajaran Islam,karena di
dalam ketiga teori tersebut tidak ada Tuhannya,atau hanya bersifat anthropocentris.Islam
menganut ideology pendidikan yang berbasis pada humanisme teocentris.Yaitu
memadukan usaha manusia dan peran Tuhan.Dalam hubungan ini,Islam menggambarkan
mendidik itu seperti orang yang bertani,yang bergantung pada bibit yang unggul dan
bermutu (navitisme),dan tanah yang subur,cuaca yang mendukung,air yang
cukup,pupuk yang memadai,cara menanam yang baik,dan merawat yang telaten,juga
membutuhkan ketentuan Tuhan.Bahwa bibit yang unggul dan tanah yang subur dan
lainnya itu belum dapat menjamin bahwa tanaman tersebut akan tumbuh subur dan
berbuah.Semua itu masih membutuhkan kehendak Allah.Dalam hubungan ini Allah swt
berfirman,yang artinya:Tidakkah kamu
perhatikan apa yang kamu tanam? Kamukah yang menyebabkan tanaman tersebut
tumbuh dan berbuah atau Aku?(QS All-Waaqi’ah,56:63-64).Jawabnya mesti yang
menentukan tanaman tersebut tumbuh dan berbuah itu amat tergantung juga pada
kehendak Allah swt.Atas dasar pandangan dan keyakinan yang serupa itu,maka
seseorang tidak dapat mengklaim,bahwa keberhasilan tersebut karena usahanya
sendiri.Keberhasilan tersebut juga atas izin Allah swt.Dlam hubungan
inilah,maka di dalam surat Luqman dinyatakan,bahwa ketika Luqman berhasil
mendidik anaknya,dan anaknya itu hamper saja menomorduakan Tuhan dalam hal
menyatakan terima kasih,maka Allah swt menyatakan: hendaknya engkau terlebih
dahulu berterima kasih kepada-Ku,setelah itu barulah berterima kasih kepada
orang tuamu (an usykur liy waliwa lidaika
= hendaknya engkau bersyukur kepada-Ku,dan kepada kedua orang tuamu).
Dari keseluruhan uraian yang menggunakan berbagai
pendekatan tersebut akhirnya dapat dikemukakan beberapa catatan sebagai
berikut:
Pertama,manusia
adalah makhluk ysng diciptakan oleh Allah swt,dari unsur jasmani yang berasal
dari bumi, dan ruh yang dihembuskan Tuhan,melalui proses dalam kandungan dalam
kurun waktu tertentu.Bila sudah tiba ajalnya manusia akan mati,jasadnya kembali
ke bumi,sedangkan ruhnya akan kembali kepada Allah Swt,hidup kekal di akhirat
selamanya.Bila hari kebangkitan dari alam kubur sudah tiba,maka jasmani dan
ruhaninya embali bersatu dengan izin Allah Swt.
Kedua,manusia
adalah makhluk yang memiliki berbagai potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk
lainnya,yaitu potensi jasmani,jasad atau fisik; potensi ruhani atau
spiritual,potensi berfikir atau intelektual,potensi sosial,bakat,kecerdasan,dan
sebagainya.Berbagai potensi manusia ini mengalami proses pertumbuhan dan
perkembangan,yaitu dari keadaan belum matang atau belum dewasa menuju keadaan
yang matang dan dewasa.Selain itu ,berbagai potensi ini pun memiliki cirri-ciri
dan kemampuan yan beragam,serta tingkatan yang berbeda antara satu dan
lainnya.Perbedaan ini pada tahap selanjutnya menimbulkan perbedaan tingkatan
atau stratifikasi di masyarakat.Adanya perbedaan ini bukan untuk diperdebatkan
atau untuk saling merasa lebih antara satu dan lainnya,melainkan untuk saling
tolong-menolong dan bekerja sama.
Ketiga, dengan
adanya berbagai potensi tersebut,menyebabkan manusia dapat mengolah sumber daya
alam,menundukkan daratan,gunung,lautan,bahkan ruang angkasa,dan lain
sebagainya.Dengan menundukkan daratan melalui alat transportasi darat,manusia
dapat menggunakannya untuk bercocok tanam,sebagai tempat tinggal,membangun
gedung-gedung,atau bahkan digali kandungannya untuk dimanfaatkan,seperti
mineral,minyak,gas,dan sebagainya.Dengan menundukkan gunung,manusia mendapatkan
hasil tambang,bahan-bahan bangunan untuk pembuatan berbagai keperluan
hidup,seperti pasir,batu,semen,belerang,tembaga,emas,perak,dan
sebagainya.Melalui berbagai kegiatan ini,manusia dapat melaksanakan fungsinya
sebagai khalifah di muka bumi serta menunjukkan pengabdian itu ibadahnya kepada
Allah Swt.[2]
C.
Hakikat
Pendidikan
Banyak ahli membahas pengertian “Pendidkan”,tetapi
dalam pembhasannya mengalami kesulitan,karena antara satu pengertian dengan
pengertian lain sering terjadi perbedaan.Ahmad D.Marimba (1989:19) merumuskan
pendidikan sebagai bimbingan atau didikan secara sadar oleh pendidik terhadap
perkembangan anak didik,baik jasmani maupun rohani,menuju terbentuknya
kepribadian yang utama.Pengertian ini sangat sederhan meskipun secara subtansi
telah mencerminkan pemahaman tentang proses pendidikam.Menurut pengertian
ini,pendidikan hanya terbatas pada pengembangan pribadi anak didikoleh
pendidik.
Ahmad Tafsir seperti dikutip Noeng Muhadjir
(1987:26) mendefinisikan pendidikan secara luas ,yaitu “pengembangan pribadi
dalam semua aspeknya”,dengan catatan bahwa yang dimaksud “pengembangan pribadi”
mencangkup pendidikan oleh diri sendiri,lingkungan dan orang lain.Sementara
kata semua aspek mencangkup aspek
jasmani,akal dan hati.Dengan demikian,tugas pendidikan bukan sekedar
meningkatkan kecerdasan intelektual,melainkan pula mengembangkan seluruh aspek
kepribadian anak didik.
Sementara itu Ki Hajar Dewantara seperti dikutip Abu
Ahmadi dan Nur Ukbiyati mendefinisikan pendidikan sebagai tuntutan segala kekuatan
kodrat yang ada pada anak agar mereka kelak menjadi manusia dan anggota
masyarakat yang dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya (1991: 69).
Dari pengertian-pengertian pendidikan yang
diungkapkan oleh para ahli di atas,secara umum dapat dikelompokkan menjadi
dua,yaitu:
1. Pengertian
secara sempit yang mengkhususkan pendidikan hanya untuk anak dan hanya
dilakukan oleh lembaga atau institusi khusus dalam kerangka mengantarkan kepada
kedewasaan.
2. Pengertian
secara luas,yang mana pendidikan berlaku untuk semua orang dan dapat dilakukan
oleh semua orang bahkan lingkungan.Tetapi,dari perbedaan tersebut juga ada
kesamaan tujuan,yaitu”untuk mencapai kebahagiaan dan nilai yang tinggi”.
Dengan demikian,pengertian – pengertian tersebut
dapat diverbalisasikan dalam sebuah pengertian yang komprehensif bahwa
pendidikan adalah seluruh aktivitas atau upaya secara sadar yang dilakukan oleh
pendidik kepada peserta didik terhadap semua aspek perkembangan
kepribadian,baik jasmani maupun ruhani,secar formal,informal maupun non formal yang
berjalan terus- menerus untuk mencapai kebahagiaan dan nilai yang tinggi ,baik
nilai insaniah maupun Ilahiyah.Dalam hal ini,pendidikan
berarti menumbuhkan kepribadian serta menanamkan rasa tanggung jawab sehingga
pendidikan terhadap diri manusia adalah laksana makanan yang berfungsi memberi
kekuatan,kesehatan, dan pertumbuhan,untuk mempersiapkan generasi yang
menjalankan kehidupan guna memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien
(Azra,1999 : 3).
Dalam konteks Islam,istilah pendidikan mengacu
kepada makna dan asal kata yang membentuk kata pendidikan itu sendiri dalam hubungannya dengan ajaran Islam.Maka
dalam konteks ini,perlu juga dikaji hakikat pendidikan Islam yang didasarkan
pada sejumlah istilah yang umum dikenal dan digunakan para ahli pendidikan
Islam.
Ada tiga istilah yang umum digunakan dalam
pendidikan Islam,yaitu al-tarbiyah,al-ta’lim,dan al-ta’dib.Setiap istilah tersebut mempunyai makna yang berbeda
karena pebedaan teks dan konteks kalimatnya.Walaupun dalam hal – hal tertentu
istilah-istilah tersebut juga mempunyai kesamaan makna.
Formulasi hakikat pendidikan Islam tidak bisa
dilepaskan begitu saja dari ajaran Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dan
As-Sunnah,karena kedua sumber ini merupakan pedoman otentik dalam penggalian
khazanah keilmuan apapun.Dengan berpijak pada kedua sumber ini,diharapkan akan
diperoleh gambaran yang jelas tentang hakikat pendidikan Islam.[3]
D.
Karakteristik
Peserta Didik
Secara umum peserta didik memiliki
karakteristik sbb.:
a) Peserta
didik memiliki berbagai potensi.
b) Peserta
didik merupakan individu-individu yang sedang berkembang.
c) Peserta
didik yg satu memiliki perbedaan-perbedaan dengan peserta didik lainnya.
d) Peserta
didik membutuhkan perhatian dan perlakuan yang manusiawi.
e) Peserta
didik merupakan individu yang aktif dan kreatif.
Peserta didik memiliki berbagai
kebutuhan.
E.
Visi
, misi dan Asas Pendidikan
1. Visi Pendidikan
Visi adalah rumusan umum mengenai
keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan.Sedangkan pendidikan
dapat diartikan sebagai suatu metode untuk mengembangkan keterampilan,
kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi lebih
baik.
Pendidikan mempunyai visi yaitu
terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa
untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia
yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang
selalu berubah.
Pendidikan merupakan proses
sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik, yang
memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat
berkembang secara optimal. Dengan demikian, pendidikan seyogyanya menjadi
wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu, sehingga
cita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dapat tercapai.Selain itu,
pembangunan pendidikan nasional juga diarahkan untuk membangun karakter dan
wawasan kebangsaan bagi peserta didik, yang menjadi landasan penting bagi upaya
memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI.
- Misi Pendidikan
Misi adalah rumusan umum
mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan Visi.
Dalam rangka mewujudkan Visi
Pendidikan Nasional dan sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Misi Pendidikan Nasional adalah:
a. mengupayakan perluasan dan
pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat
Indonesia;
b. membantu dan memfasilitasi
pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat
dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar;
c. meningkatkan kesiapan masukan dan
kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang
bermoral;
d. meningkatkan keprofesionalan dan
akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan,
keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan
global;
e. memberdayakan peran serta masyarakat
dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks
Negara Kesatuan RI.
3. Azas-Azas Pendidikan
Asas pendidikan merupakan sesuatu
kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan
maupun pelaksanaan pendidikan.Khusus di Indonesia, terdapat beberapa asas
pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu.
Diantara asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas
Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar.
a.
Asas
Tut Wuri Handayani
Sebagai asas pertama, tut wuri
handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan.Asas yang dikumandangkan
oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono
dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing
Madyo Mangun Karso.
Kini ketiga semboyan tersebut telah
menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:
·
Ing
Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh).
·
Ing
Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat).
·
Tut
Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan).
Maksud asas tut wuri handayani
adalah sebagai pendidik hendaknya mampu menyalurkan dan mengarahkan perilaku
dan segala tindakan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang dirancang.
Dalam KTSP, guru bukan lagi sekedar
“penceramah” melainkan pemberi dorongan, pengawas, dan pengarah kinerja para
peserta didik.Dengan sistem kurikulum yang terbaru ini, para pendidik (guru)
diharapkan mampu melejitkan semangat atau motivasi peserta didiknya. Hal ini
lantaran proses pengajaran dan pembelajaran hanya akan berjalan lancar, efektif
dan efisien manakala ada semangat yang kuat dari para peserta didik untuk
mengembangkan dirinya melalui pendidikan.Maka bukan tidak mungkin, jika KTSP
juga merupakan wujud manifestasi dari asas pendidikan Indonesia “Kemandirian
dalam Belajar.”
b.
Asas
Belajar Sepanjang Hayat
Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut
pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education).Konsep belajar sepanjang hayat sendiri telah
didefinisikan dengan sangat baik oleh UNESCO Institute for Education, lembaga
di bawah naungan PBB yang terkonsentrasi dengan urusan pendidikan.Belajar
sepanjang hayat merupakan pendidikan yang harus (1) meliputi seluruh hidup
setiap individu, (2) mengarah kepada pembentukan, pembaharuan, peningkatan, dan
penyempurnaan secara sistematis, (3) tujuan akhirnya adalah mengembangkan
penyadaran diri setiap indiviu, dan (5) mengakui kontribusi dari semua pengaruh
pendidikan yang mungkin terjadi (Cropley, 1970: 2-3, Sulo Lipu La Sulo, 1990:
25-26, dalam Tirtarahardja, 1994: 121).
Kurikulum yang dapat mendukung
terwujudnya belajar sepanjang hayat harus dirancang dan diimplementasikan
dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal.
- Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.
- Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.
Jika diterapkan dalam sistem
pendidikan yang berlaku saat ini, maka pendekatan yang sangat mungkin digunakan
untuk mencapai tujuan ini adalah melalui pendekatan “Pembalajaran dan
Pengajaran Kontekstual.”Sedang dalam konteks pendidikan di Indonesia, konsep
“Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual” sedikit banyak telah termanifestasi
ke dalam sistem Kurikulim Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Selain KTSP – yang
notabene merupakan bagian dari pendidikan formal, maka Asas Belajar sepanjang
Hayat juga termanifestasi dalam program pendidikan non-formal, seperti program
pemberantasa buta aksara untuk warga Indonesia yang telah berusia lanjut, dan
juga program pendidikan informal, seperti hubungan sosial dalam masyarakat dan
keluarga tentunya.
c. Asas Kemandirian dalam Belajar
Keberadaan Asas Kemandirian dalam
Belajar memang satu jalur dengan apa yang menjadi agenda besar dari Asas Tut
Wuri Handayani, yakni memberikan para peserta didik kesempatan untuk “berjalan
sendiri.” Inti dari istilah “berjalan sendiri” tentunya sama dengan konsep dari
“mandiri” yang dalam Asas Kemandirian dalam Belajar bermakna “menghindari
campur tangan guru namun (guru juga harus) selalu siap untuk ulur tangan apabila
diperlukan” (Tirtarahardja, 1994: 123).
Kurikulum KTSP tentunya sangat
membantu dalam agenda mewujudkan Asas Kemandirian dalam Belajar.Prof. Dr. Umar
Tirtarahardja (1994) lebih lanjut mengemukakan bahwa dalam Asas Kemandirian
dalam Belajar, guru tidak hanya sebagai pemberi dorongan, namun juga
fasilitator, penyampai informasi, dan organisator (Tirtarahardja, 1994: 123).Oleh
karena itu, wujud manifestasi Asas Kemandirian dalam Belajar bukan hanya dalam
berbentuk kurikulum KTSP, namun juga dalam bentuk ko-kurikuler dan ekstra
kurikuler – sedang dalam lingkup perguruan tinggi terwujud dalam kegiatan tatap
muka dan kegiatan terstruktur dan mandiri.
Dalam bukunya “Contextual Teaching
and Learning” Elanie B. Johnson (2009) berpendapat bahwa dalam Pembelajaran
Mandiri, seorang guru yang berfaham “Pembalajaran dan Pengajaran Kontekstual”
dituntut untuk mampu menjadi mentor dan guru ‘privat’ (Johnson, 2009: 177).Sebagai
mentor, guru yang hendak mewujudkan kemandirian peserta didik diharapkan mampu
memberikan pengalaman yang membantu kepada siswa mandiri untuk menemukan cara
menghubungkan sekolah dengan pengalaman dan pengetahuan mereka sebelumnya.
Sebagai seorang guru ‘privat,’ seorang guru biasanya akan memantau siswa dalam
belajar dan sesekali menyela proses belajar mereka untuk membenarkan, menuntun,
dan member instruksi mendalam (Johnson, 2009).
Lebih lanjut Johnson mengungkapkan
bahwa kelak jika proses belajar mandiri berjalan dengan baik, maka para peserta
didik akan mampu membuat pilihan-pilihan positif tentang bagaimana mereka akan
mengatasi kegelisahan dan kekacauan dalam kehidupan sehari-hari (Johnson, 2009:
179).Dengan kata lain, proses belajar mandiri atau Asas Kemandirian dalam
Belajar akan mampu menggiring manusia untuk tetap “Belajar sepanjang Hayatnya.”
Perwujudan asas kemandirian dalam
belajar akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan
motifator.Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam melatih
kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif).[4]
F.
Unsur
– Unsur Pendidikan
Unsur- unsur pendidikan
meliputi:
1. Peserta
didik
Dalam masyarakat,ada beberapa istilah
yang digunakan untuk menyebut peserta didik,seperti siswa, murid, santri, pelajar, mahasiswa,dan sebagainya.Istilah
siswa,murid,dan pelajar,umumnya digunakan untuk menyatakan peserta didik pada
jenjang pendidikan dasar sampai sekolah menengah.Sementara bagi peserta didik pada
tingkat pendidikan tinggi atau akademi,disebut mahasiswa.Sementara istilah santri
digunakan untuk mengtakan peserta
didik yang menuntut ilmu di pondok pesantren ( Poerwadarminta,1976:664 dan
955).
Dalam term Islam,seorang peserta didik
dikenal dengan istilah thalib.Kata thalib berasal dari akar kata thalaba-yathlubu yang berarti mencari
atau menuntut.Dengan demikian ,seorang peserta didik adalah seorang thalib yang selalu merasa gelisah untuk
mencari dan menemukan ilmu di mana pu dan kapan pun.
Adapun yang dimaksud dengan peserta
didik dalam pengertian-pengertian umumnya adalah tiap orang atau sekelompok
orang yang menerima pengaruh dari seseorang ata sekelompok orang yang
menjalakan kegiatan pendidikan.Dalam Undang- Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional,bab 1 pasal 1 ayat 4,dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan
peserta didik,yaitu anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya
melalui proses pendidikan pada jalur jenjang,dan jenis pendidikan tertentu.
Peserta didik dalam pendidikan Islam
adalah anak yang sedang tumbuh berkembang,baik secara fisik,amaupun psikologis,untuk
mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan (Muhaimin dan
Mujib,1991 : 137).Definisi tersebut memberi arti bahwa peserta didik belum
dewasa yang memerlukan orang lain untuk menjadi dewasa.Anak kandung adalah
peserta didik dalam keluarga,murid adalah peserta didik di sekolah, anak-anak
penduduk adalah pesrta didik masyarakat sekitarnya, dan anak-anak umat beragama
menjadi peseta didik ruhaniawan agama.
Dari berbagai pengertian dan berbagai
istilah di atas,dapat disimpulkan bahwa
peserta didik merupakan orang-orang yang sedang memerlukan pengetahuan dan
ilmu,bimbingan maupun arahan dari orang lain.Untuk menentukan jenis peserta
didik,maka tidak dapat terlepas dari jenis-jenis atau bentuk-bentuk
pendidikan.Secara umum,bentuk pendidikan dibagi menjadi dua,yaitu pendidikan
sekolah dan pendidikan luar sekolah.Pendidikan sekolah merupakan pendidikan
formal.Sementara pendidikan luar sekolah mengambil bentuk dalam pendidikan
informal dan nonformal.[5]
Berhasil atau tidaknya peserta didik
dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu:
a) Latar
belakang ekonomi
Latar belakang ekonomi yang dimiliki
oleh orang tua peserta didik sangat mempengaruhi keberhasilan peserta didik itu
sendiri,karena di jaman yang modern ini banyak sekolah-sekolah yang menggunakan
failitas yang serba canggih untuk sarana belajar mengajar,sehingga membutuhkan
biaya yang tidak sedikit pula dan banyak sekolah-sekolah bagus tetapi
mahal.Dengan demikian untuk orang tua peserta didik yang termasuk golongan menengah kebawah perlu
berfikir dua kali untuk memasukkan anak-anaknya untuk masuk ke sekolah
tersebut,dan tidak ada pilihan lain mereka mau tidak mau memasukkan anak mereka
ke sekolah yang biasa dengan fasilitas yang terbatas.
b) Kemampuan
akademik
Setiap anak didik memiliki kemampuan berfikir
yang berbeda,sehingga prestasi yang diraih pun juga berbeda.Setiap anak
memiliki bakat masing-masing,dimana bakat tersebut dapat diasah hingga dapat
dikembangkan dan disalurkan.
c) Gaya
belajar
Gaya belajar yang nyaman dan
menyenangkan sangat mempengaruhi peserta didik dalam menerima materi oleh sang
guru.
d) Pengalaman
Anak
Anak yang berpengalaman dalam suatu
kegiatan belajar dapat lebih mengerti dibanding anak belum pernah berpengalaman
sama sekali.
2. Pendidik
a. Hakikat
Pendidik
Dari segi bahasa,pendidik adalah orang
yang mendidik (Poerwadarminta,1976:250).Dari pengertian ini timbul kesan bahwa
pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam hal mendidik.
Adapun pengertian pendidik menurut
istilah dikemukakan oleh para ahli pendidikan Islam,diantaranya adalah Ahmad
D.Marimba (1989:37) yang menyatakan bahwa pendidik ialah orang yang memikul
tanggung jawab untuk mendidik.Orang dalam pengertian ini adalah orang
dewasa,yang karena hak dan kewajibannya bertanggung jawab memberi pertolongan
pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan ruhaninya,agar mencapai tingkat
kedewasaan,maupun berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya,mampu
berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah Swt.Selain
itu,mampu sebagai makhluk sosial dan makhluk individu yang mandiri
(Suryobrata,1993:26).
Sejalan dengan pendapat Ahmad D. Marimba,Ahmad
Tafsir (1992:74) mendefinisikan pendidik
sebagai siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak
didik,dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik,baik
efektif,kognitif,maupun psikomotorik.Menurutnya,tanggung jawab pertama dan
utama terhadap pendidikan adalah orangtua anak didik.Tanggung jawab itu
disebabkan sekurang-kurangnya oleh dua hal: (1) karena kodrat,yaitu karena
orangtua ditakdirkan bertanggung jawab mendidik anaknya: (2) karena kepentingan
kedua orangtua,yaitu orangtua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan
anaknya,sukses anaknya sukses anaknya juga.
Pengertian lain dari pendidik dapat
dilihat pada ensiklopedi Pendidikan karangan Soegarda
Poerbakawatja dan HAH.Harahap (1982:257).Menurutnya,yang dimaksud dengan
pendidik ialah seseorangyang memberi dan melaksanakan tugas pendidikan atau
tugas mendidik.Selanjutnya,dikatakan bahwa orangtua adalah pendidik atas dasar
jabatan dan kedudukannya.
Dari berbagai definisi pendidik di
atas,dapat dimengerti bahwa yang dimaksud dengan pendidik adalah orang dewasa
yang bertanggung jawab memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam
perkembangan jasmani dan ruhaninya agar mencapai kedewasaannya,mampu
melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di
bumi,sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup bediri sendiri.
b. Tugas
dan Tanggung jawab Pendidik
Dalam
kaitannya dengan etika yang wajib dilaksanakn pendidik kepada peserta didiknya,
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’Ulumuddin
(t.t.) menyatakan,sebagai berikut:
1. Seorang
pendidik harus menaruh kasih sayang terhadap peserta didiknya dan memperlakukan
mereka seperti perlakuan mereka terhadap anaknya sendiri.
2. Seorang
pendidik hendaknya tidak mengharapkan balas jasa atau ucapan terima
kasih,tetapi dengan mendidik itu ia bermaksud mencari keridhaan Allah Swt dan
mendekatkan diri kepada-Nya.
3. Hendaknya
pendidik menasihatkan kepada peserta didiknya supaya jangan sibuk dengan ilmu
yang abstrak dan yang ghaib-ghaib sebelum selesai pelajaran atau pengertiannya
dalam ilmu yang jelas,konkret dan ilmu yang pokok-pokok,terangkanlah bahwa
belajar itu supaya dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt,bukan akan
bermegah-megahan dengan ilmu pengetahuan itu.
4. Mencegah
peserta didik dari sesuatu akhlak yang tidak baik dengan jalan sindiran ,jika
mungkin dan jangan dengan terus terang,dengan jalan halus dan jangan mencela.
5. Supaya
diperhatikan tingkat akal pikiran peserta didik dan berbicara dengan mereka
menurut kadar akalnya dan jangan disampaikan sesuatu yang melebihi tingkat
tangkapannya agar ia tidak lari dari pelajaran,ringkasnya berbicalah dengan
bahasa mereka.
6. Jangan
ditimbulkan rasa benci pada diri peserta didik mengenai sesuatu cabang ilmu
yang lain,tetapi seyogyanya dibukakan jalan bagi mereka untuk belajar cabang
ilmu tersebut.
7. Seyogyanya
kepada peserta didik yang masih di bawah umur diberikan pelajaranyang jelas dan
pantas buat dia dan tidak perlu disebutkan kepadanya akan rahsia-rahasia yang
terkandung di dalam sesuatu itu,sehingga tidak menjadi dingin kemaunnya atau
gelisah pikirannya.
8. Seorang
pendidik harus mengamalkan ilmunya dan jangan berlain kata dengan perbuatannya.
Berdasarkan uraian tersebut di
atas,terlihat bahwa sosok pendidik yang ideal adalah pendidik yang memiliki
motivasi mendidik yang tulus,yaitu ikhlas dalam mengamalkan ilmunya,bertindak
sebagai “orangtua” yang penuh kasih sayang kepada peserta didiknya,mampu
menggali potensi yang dimiliki para peserta didik,bersikap terbuka dan
demokratis untuk menerima dan menghargai pendapat para peserta didiknya ,dapat
bekerja sama dengan peserta didik dalam memecahkan masalah ,dan ia menjadi tipe
ideal atau idola bagi peserta didiknya,sehingga peserta didik itu mengikuti perbuatan
baik yang dilakukan pendidiknya menuju jalan akhirat.Di sini,terlihat bahwa
pada akhirnya berbagai upaya yang dilakukan oleh pendidik terhadap peserta
didiknya dalam proses pendidikan harus dapat membawa peserta didik menuju taqqarub kepada Allah Swt.[6]
c. Persyaratan
pendidik
Dalam proses belajar mengajar,seorang
pendidik sebagai model dan suri tauladan oleh peserta didik dalam setiap
perilakunya.Untuk itu,sebelum memasuki proses belajar mengajar,ia harus
mengerti bagaimana sebenarnya sikap terhadap dirinya sendiri sebagai orang
dewasa yang bertanggung jawab memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan ruhaninya agar
mencapai kedewasaannya,mampu melaksakan tugasnya sebagai khalifah di bumi,sebagai
makhuk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.
Menurut M.Ali seperti dikutip User
Ustman (2001:15),ada lima syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang ingin
menjadi pendidik,yaitu:
1) Memiliki
ketrampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam.
2) Menenkankan
pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya.
3) Adanya
tingkat pendidikan keguruan yang memadai.
4) Adanya
kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksakannya.
5) Memungkinkan
perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.
Selain syarat-syarat tersebut,menurut
User Ustman,seorang pendidik yang professional harus memiliki kode etik,serta
diakui oleh masyarakat karena memang diperlukan jasanya di masyarakat.
Berdasarkan rumusan yang disusun oleh
Tim Penyusun Buku Teks Ilmu Pendidikan Islam Perguruan Tinggi Agama/IAIN,syarat
yang harus dipenuhi oleh seseorang yang ingin menjadi pendidik ialah bertaqwa
kepada Allah Swt,berilmu,sehat jasmaniah,baik akhlaknya,bertanggung jawab dan
berjiwa nasional.Sementara kriteria akhlak yang dituntut,antara lain:
1) Mencintai
jabatannya sebagai pendidik
2) Bersikap
adil pada muridnya
3) Harus
gembira dan berwibawa
4) Berlaku
sabar dan tenang
5) Harus
bersifat manusiawi
6) Bekerjasama
dengan pendidik lain
7) Bekerjasama
dengan masyarakat.(Ihsan dan Fuad Ihsan,1998: 102-103)
Menurut pendapat lain,pendidik harus
memenuhi syarat- syarat agar usahanya mendidik dapat berhasil,yaitu:
1) Pendidik
harus mengerti Ilmu mendidik sebaik-baiknya,sehingga segala tindakan dalam
mendidik itu disesuaikan dengan jiwa peserta didiknya
2) Pendidik
harus memiliki bahasa yang begitu baik dan menggunakannya sebaik-baik mungkin
sehingga dengan bahasa itu peserta didik tertarik kepada pelajarannya.Dengan
bahasanya itu,dapat menimbulkan perasaan yang halus-halus pada peserta didik
3) Pendidik
harus mencintai peserta didiknya.Sebab cinta senantiasa mengandung arti
menghilangkan kepentingandiri sendiri untuk keperluan orang lain
(Arifin,1976:125).
Syarat-syarat tersebut di atas dapat
disimpulkan secara singkat,sebagai berikut,”Pendidik harus bekerja sesuai ilmu
mendidik (metodik/didaktik) yang
sebaik-baiknya dengan disertai ilmu pengetahuan yang cukup luas dalam bidangnya
ang dilandasi rasa berbakti yang tinggi.”[7]
3. Interaksi
Edukatif
Dalam proses belajar mengajarnya
hendaknya ada interaksi edukatif antara pendidik dan peserta didik agar proses
belajar mengajar berlangsung dengan lancar.
4. Alat
Pendidikan
Alat
atau media pendidikan alat,metode,dan teknik yang digunakan dalam kerangka
meningkatkan efektifitas komunikasi dan interaksi edukatif antara peserta didik
dan peserta dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah
(Darajat,dkk,1996:80).Maka,dapat dimafhumi dalam pendidikan khususnya pada
kegiatan proses pembelajaran perlu adanya media pendidikan sebagai alat bantu
untuk memudahkan pemahaman peserta didik dalam materi-materi tertentu,ketika
penjelasan melalui verbal sulit diterima peserta didik.[8]
5. Aspek
Tujuan
Dalam proses belajar mengajar harus
memiliki tujuan,yaitu: memberi pengetahuan, ketrampilan dan menjadikan peserta
didik yang memiliki sikap dan tingkah laku yang baik.
6. Aspek
Lingkungan
Lingkungan pendidikan pada dasarnya
adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekeliling proses pendidikan yang
terdiri dari manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan,dan benda mati.Akan tetapi
dalam hal ini,menurut H.Ramayulis (2008:270), yang plaing menentukan adalah
lingkungan yang berupa manusia atau masyarakat.
Lingkungan pendidikan juga didefinisikan
sebagai suatu institusi atau kelembagaan tempat pendidikan itu
berlangsung.Lingkungan tersebut akan mempengaruhi proses pendidikan yang
berlangsung.Dalam beberapa sumber bacaan kependidikan,jarang dijumpai pendapat para
ahli tentang pengertian lingkungan pendidikan Islam.Kajian lingkungan
pendidikan Islam ( tarbiyah Islamiyah)
biasanya terintegrasi secara implicit dengan pembahasan mengenai macam-macam
lingkungan pendidikan.
Pada perkembangan selanjutnya,institusi
pendidikan ini disederhanakan menjadi tiga macam,yaitu keluarga – disebut juga
sebagai salah satu dari satuan pendidikan luar sekolah – sebagai lembaga
pendidikan informal,sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dan masyarakat
sebagai lembaga pendidikan nonformal.Ketiga lembaga pendidikan tersebut akan
berpengaruh terhadap kelembagaan dan pembinaan kepribadian peserta didik.[9]
7. Waktu
Pelaksanaan
Waktu
belajar mengajar yang tepat sangat mempengaruhi kualitas belajar mngajar.
G. Sistem Pendidikan Nasional
Istilah sistem
berasal dari bahasa Yunani “systema”, yang berarti sehimpunan bagian atau
komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu
keseluruhan. Istilah sistem dipakai untuk menunjukkan beberapa pengertian,
salah satunya adalah sistem dapat dipakai untuk menunjukkan sehimpunan gagasan
atau ide yang tersusun dan terorganisasi sehingga membentuk suatu kesatuan yang
logis.
Sistem adalah suatu kesatuan yang
terdiri atas komponen-komponen atau elemen-elemen atau unsur-unsur sebagai
sumber-sumber yang mempunyai hubungan fungsional yang teratur, tidak sekedar
acak, yang saling membantu untuk mencapai suatu hasil (product) (Zahara
Idris 1987). Pendidikan merupakan sustu usaha untuk mencapai suatu tujuan
pendidikan. Suatu usaha pendidikan menyangkut 3 unsur pokok yaitu sebagai
berikut:
1. Unsur masukan ialah peserta didik
dengan berbagai ciri-ciri yang ada pada diri peserta didik itu (antara lain:
bakat, minat, kemampuan, keadaan jasmani).
2. Unsur usaha adalah proses pendidikan
yang terkait berbagai hal, seperti pendidik, kurikulum, gedung sekolah, buku,
metode belajar, dan lain-lain.
3. Unsur hasil usaha adalah hasil
pendidikan yang meliputi hasil belajar (yang berupa pengetahuan, sikap dan
keterampilan) setelah selesainya suatu proses belajar mengajar tertentu.
Pendidikan merupakan suatu sistem
yang mempunyai unsur-unsur tujuan/sasaran pendidikan, peserta didik, pengelola
pendidikan, struktur atau jenjang, kurikulum dan peralatan/fasilitas.
(Deartemen Pendidikan dan Kebudayaan 1939).[10]
H.
Gezag
/ Kewibawaan Pendidikan
1. Pengertian
Kewibawaan
Konsep kewibawaan di adopsi dari bahasa belanda
yaitu” gezag” yang bersal dari kata” zeggen “ yang berarti” berkata”.Siapa
perkataannya yang mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempunyai
kewibawaan atau gezag terhadap orang itu.
Dalam pengertian umum yang berkembang dalam situasi
dan kondisi dimasyarakat, kewibawaan sering pula diartikan sebagai sesuatu
kelebihan yang dimiliki seseorang. Dengan kelebihan yang dimilikinya dia
dihargai, dihormati, disegani, bahkan ditakuti orang lain atau kelompok
masyarakat tertentu.Kelebihan itu bisa saja dalam berbagai dimensi yang
dipunyai seseorang, mungkin kerena ilmu atau keahlian atau kepintarannya,
kekayaannya, kekuatannya, kecakapanya, sifatnya, perilakunya atau
kepribadiannya.
Kewibawaan yang dipunyai orang tua dengan kewibawaan
yang dimilki oleh guru dalam pendidikan tentu saja ada persamaan dan
perbedaanya. Orang tua adalah pendidik yang utama dan pertama dan sudah
semestinya.Mereka adalah pendidik alami dan asli menerima tugas secara kodrati
dari tuhan untuk mendidik anak-anaknya.Karena itu sudah semestinya mereka
mempunyai kewibawaan terhadap anak-anaknya.
Kewibawaan orangtua dapat dilihat dari dua sisi
yaitu:
a. Kewibawaan
Pendidikan
Dalam hal ini orang tua bertujuan memelihara
keselamatan anak-anaknya, agar mereka dapat hidup terus dan berkembang secara
jasmani dan rohaninya menjadi manusia dewasa.Pembawa pendidikan itu berakhir
jika anak itu sudah menjadi dewasa.
b. Kewibawaan Keluarga
Orang tua merupakan kepala dari suatu keluarga tiap
anggota keluarga harus patuh terhadap peraturan yang berlaku dalam keluarga
dengan demikian orang tua sebagai kepala keluarga dan dalam hubungan
kekeluargaanya mempunyai kewibawaan terhadap anggota keluarganya.
Kewibawaan keluarga bertujuan untuk pemeliharaan dan
keselamatan keluarga.
Kewibawaan guru dan tenaga kependidikan lainya sebagai pendidik bukan dari kodrat, melainkan karena jabatan yang diterimanya.Ia ditunjuk, diangkat dan diberi kekuasaan sebagai pendidik oleh negara dan masyarakat oleh karena itu kewibawaan yang ada padanya pun berlainan dengan kewibawaan orangtua
Kewibawaan guru dan tenaga kependidikan lainya sebagai pendidik bukan dari kodrat, melainkan karena jabatan yang diterimanya.Ia ditunjuk, diangkat dan diberi kekuasaan sebagai pendidik oleh negara dan masyarakat oleh karena itu kewibawaan yang ada padanya pun berlainan dengan kewibawaan orangtua
a. Kewibawaan
guru dalam pendidikan.
Seperti halnya kewibawaan pendidikan yang ada pada
orang tua, guru atau pendidik karena jabatan berkenaan dengan jabatanya sebagai
pendidik, telah diserahi sebagian dari orang tua untuk mendidik anak-anak.Kewibawaan
pendidikan ini di batasi oleh banyaknya anak-anak yang diserahakan kepadanya
dan setiap tahun berganti murid.
b. Kewibawaan
Pemerintah
Disamping memiliki kewibawaan pendidikan guru atau
pendidik karena jabatannya juga mempunyai kewibawaan pemerintah.Mereka di beri
kekuasaan oleh pemerintah yang mengankatnya.Kekuasaan (kewibawaan) tersebut
meliputi pimpinan kelas,di situlah anak-anak telah diserahkan padanya.
2. Fungsi
Kewibawaan Dalam Pendidikan
Dalam pergaulan baru terdapat pendidikan, jika didalamnya
telah dapat kepatuhan si anak.Tetapi tidak semua pergaulan merupakan
pendidikan.
Satu-satunya pengaruh yang dapat dikatakan
pendidikan adalah pengaruh yang menuju kedewasaan anak, untuk menolong anak
menjadi orang yang kelak dapat atau sanggup memenuhi tugas hidupnya secara
mandiri.Berdasarkan penjelasan diatas, tampak fungsi wibawa pendidikan adalah
membawa si anak kearah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya mengakui
wibawa orang lain dan mau menjalaninya.[11]
I.
Permasalahan
– Permasalahan Pendidikan
Masalah-masalah pendidikan di
Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 4 :
1.
masalah
partisipasi/kesempatan memperoleh pendidikan:
·
Masalah
partisipasi atau kesempatan memperoleh pendidikan adalah rasio atau
perbandingan antara masukan pendidikan (raw input) atau jumlah penduduk yang
tertampung dalam satuan-satuan pendidikan.
·
Masalah
parsisipasi pendidikan berhubungan dengan kesadaran orang tua akan pentingnya
pendidikan, kemampuan ekonomi orang tua, kondisi fisik dan psikis calon peserta
didik, terbatasnya daya tampung pendidikan, dan keterjangkauan lokasi
pendidikan.
2. masalah efisiensi pendidikan
·
Masalah
efisiensi pendidikan berkenaan dengan proses pengubahan atau transformasi
masukan produk (raw input) menjadi produk (output). Salah satu cara menentukan
mutu transformasi pendidikan adalah mengitung besar kecilnya penghamburan
pendidikian (educational wastage), dalam arti mengitung jumlah
murid/mahasiswa/peserta didik yang putus
sekolah, meng-ulang atau selesai tidak tepat waktu.
·
Masalah
efisiensi pendidikan berhubungan dengan kualitas : tenaga kependidikan, peserta
didik, kurikulum, program belajar dan pembelajaran, sarana/prasarana
pendidikan, dan suasana sosial budaya.
3. masalah efektivitas pendidikan
·
Masalah
efektivitas pendidikan berkenaan dengan rasio antara tujuan pendidikan dengan
dengan hasil pendidikan (output), artinya sejauh mana tingkat kesesuaian antara
apa yang diharapkan dengan apa yang dihasilkan, baik dalam hal kuantitas maupun
kualitas.
4. masalah relevansi pendidikan
·
Masalah
ini berkenaan dengan rasio antara tamatan yang dihasilkan satuan pendidikan
dengan yang diharapkan satuan pendidikan di atasnya atau indtitusi yang
membutuhkan tenaga kerja, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
·
Masalah
relevansi pendidikan berhubungan dengan : tuntutan satuan pendidikan yang lebih
atas yang terus meningkat dalam upaya mencapai pendidikan yang lebih
berkualitas, aspirasi dan tuntutan masyarakat yang terus meningkat dalam upaya
mencapai kehidupan yang berkualitas, ketersediaan lapangan pekerjaan di
masyarakat.
Hubungan keempat masalah pendidikan tersebut dapat
disajikan dalam bagan (Redja Mudyahardjo, 2001: 496) sebagai berikut.[12]
J.
Sekolah
Islam Terpadu
Sekolah Islam Terpadu pada hakekatnya adalah sekolah yang
mengimplementasikan konsep pendidikan islam berlandaskan Al-Quran dan As
sunnah. Dalam aplikasinya Sekolah Islam Terpadu diartikan sebagai sekolah yang
menerapkan pendekatan penyelenggaraannya dengan memadukan pendidikan umum dan
pendidikan agama menjadi suatu jalinan kurikulum.Sekolah Islam Terpadu juga
menekankan keterpaduan dalam metode pembelajaran sehingga dapat mengoptimalkan
ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.Sekolah Islam Terpadu juga memadukan
pendidikan aqliyah, ruhiyah dan jasadiyah.Dalam penyelenggaraannya memadukan
keterlibatan dan partisipasi aktif lingkungan belajar yaitu sekolah, rumah dan
masyarakat.
Dengan sejumlah pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Sekolah
Islam Terpadu adalah sekolah islam yang diselenggarakan dengan memadukan secara
integrative nilai dan ajaran islam dalam bangunan kurikulum dengan pendekatan
pembelajaran yang efektif dan pelibatan yang optimal dan koperatif antara guru
dan orang tua , serta masyarakat untuk membina karakter dan kompetensi murid.
Sekolah Islam Terpadu yang muncul sebagai alternatif solusi dari
keresahan sebagai masyarakat muslim yang menginginkan adanya sebuah institusi
pendidikan islam yang berkomitmen mengamalkan nilai – nilai islam dalam
sistemnya, dan bertujuan agar siswanya mempunyai kompetensi seimbang antara
ilmu kauniyah dengan ilmu qauliyah, antara fikriyah, ruhiyyah dan jasadiyyah,
sehingga mampu melahirkan generasi muda muslim yang berilmu, berwawasan luas
dan bermanfaat bagi ummat. Dengan tujuan menciptakan siswa yang memiliki
kecerdasan Intelektual (Intelegen Quotient), Kecerdasan
Emosional (Emotional Quotient) dan Kecerdasan Spiritual (Spritual
Quotient) yang tinggi serta kemampuan beramal (kerja) yang ihsan.[13]
BAB III
KESIMPULAN
Pendidikan mempunyai pengertian yang luas,yang
mencakup semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan
nilai-nilai serta melimpahkan pengetahuan,pengalaman,kecakapan,serta
keterampilan kepada generasi selanjutnya,sebagai usaha untuk menyiapkan
mereka,agar dapat memenuhi fungsi hidup mereka,baik jasmani begitu pula ruhani
(Langgulumg,1988:3).
Pendidikan
merupakan suatu sistem yang mempunyai unsur-unsur tujuan/sasaran pendidikan,
peserta didik, pengelola pendidikan, struktur atau jenjang, kurikulum dan
peralatan/fasilitas. (Deartemen Pendidikan dan Kebudayaan 1939).
Pendidikan di Indonesia mengacu dan bertumpu pada
sejumlah landasan hukum antara lain: UUD RI 1945,UU RI No.20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional,UU RI No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,UU RI
tentang Perlindungan Hak Anak,sejumlah peraturan Pemerintah serta sejumlah
Peraturan Menteri ( PERMEN ).
PENUTUP
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah melimpahkan nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini dengan tidak ada suatu halangan apapun.Seperti kata pepatah tiada gading
yang tak retak,saya sebagai penulis yang masih berperan sebagai pembelajar
mengakui masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini.Saran dan kritik
pembaca sangat penulis harapkan.Dan akhirnya mudah – mudahan makalh ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR
PUSTAKA
2.
http://oktaseiji.wordpress.com/2011/04/24/visi-dan-misi-pendidikan/html
diakses
tgl 30 okt 2014, pkl 06:10 wib
3.
http://sditsalmanalfarisi2.wordpress.com/2012/02/07/pengertian-sekolah-islam-terpadu/html diakses tgl 30
okt 2014, pkl 06:40 wib
4.
H.
Fuad Ihsan.Dasar-Dasar Kependidikan.2003.Jakata.Rineka Cipta.
5.
Kuntjojo, Masalah-masalah Pendidikan.ppt,2008,UNP
Kediri.
6.
Moh.Haitami
Salim & Syamsul Kurniawan,Studi
Pendidikan Islam,2012,cetakan pertama,AR-RUZZ MEDIA.
7.
Prof.Dr.H.Abuddin
Nata,MA,Pemikiran Pendidikan Islam dan
Barat,2011,Jakarta
8.
Soleha
dan Rada,Ilmu Pendidikan Islam,2011,Cetakan
ke satu,Alfabeta Bandung.
[1]
Soleha dan Rada,Ilmu Pendidikan Islam,Cetakan ke satu,Alfabeta Bandung,Desember
2011,hal 5-7
[2] Prof.Dr.H.Abuddin Nata,MA,Pemikiran
Pendidikan Islam dan Barat,2011,Jakarta,Hal 77-85
[3] Moh.Haitami Salim & Syamsul Kurniawan,Studi Pendidikan Islam,cetakan
pertama,AR-RUZZ MEDIA,2012,
Hal 27-29
[4] http://oktaseiji.wordpress.com/2011/04/24/visi-dan-misi-pendidikan/html
Diakses tgl 30 okt 2014,pkl 06:10
[5] Moh.Haitami Salim & Syamsul Kurniawan,Studi Pendidikan Islam,cetakan
pertama,AR-RUZZ MEDIA,2012,
Hal 165-167
[6] Moh.Haitami Salim & Syamsul Kurniawan,Studi Pendidikan Islam,cetakan
pertama,AR-RUZZ MEDIA,2012,
Hal 151-152
[7] Moh.Haitami Salim & Syamsul Kurniawan,Studi Pendidikan Islam,cetakan
pertama,AR-RUZZ MEDIA,2012,
Hal 145-146
[8] Moh.Haitami Salim & Syamsul Kurniawan,Studi Pendidikan Islam,cetakan
pertama,AR-RUZZ MEDIA,2012,
Hal 189
[9] Moh.Haitami Salim & Syamsul Kurniawan,Studi Pendidikan Islam,cetakan
pertama,AR-RUZZ MEDIA,2012,
Hal 261-263
[10] H. Fuad Ihsan.Dasar-Dasar Kependidikan.2003.Jakata.Rineka
Cipta. Hal 107.
[12] Kuntjojo, Masalah-masalah Pendidikan.ppt,UNP
Kediri,2008
[13] http://sditsalmanalfarisi2.wordpress.com/2012/02/07/pengertian-sekolah-islam-terpadu/html
diakses tgl 30 okt 2014,pkl
06:40
Casinos near Mohegan Sun, Connecticut - MapyRO
BalasHapusCasinos near Mohegan Sun, 화성 출장안마 Connecticut 수원 출장샵 · Wolf Den · Harrah's · Foxwoods · 의왕 출장샵 The Shops at Mohegan Sun · Casinos near Mohegan Sun 나주 출장샵 · 광명 출장안마 Connecticut · United States